08 April 2020

Melawan COVID-19 dengan Masker Batik dari Jawa Timur

“Sudah ada beberapa UMKM (di Jawa Timur) yang terpaksa merumahkan pegawainya. Ya mau gimana lagi…”

Wirasno, pelaku usaha batik Canting sekaligus ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur (APBJI), cerita tentang perjuangan para pelaku usaha batik tulis di tengah pandemik COVID-19. Secara mendadak puluhan anggota asosiasinya harus hadapi keadaan sulit dan tidak pernah disangka. Penurunan omset dirasakan sebanyak 80-90%. Bahkan, tak sedikit pelaku usaha terpaksa merumahkan pegawainya.

Beragam ide coba digali Wirasno yang juga anggota Yayasan Batik Indonesia (YBI) itu agar ada solusi atas kondisi yang dihadapi para pelaku usaha batik tulis. Bagaimana caranya agar mereka tetap terus bisa bertahan dengan batik tulis asli.

“Saat itu berunding kira-kira apa yang bisa dilakuin. Ya sudah akhirnya dari Yayasan Batik Indonesia coba kita bikin masker batik tulis,” ujar Wirasno.

Puluhan pelaku usaha dihubungi Wirasno, mereka ditanya soal kesiapan produksi. Beberapa dari mereka memang sebelumnya sudah coba secara mandiri berusaha bertahan dengan banyak cara. Jadi, saat ada pesanan pembuatan masker sudah ada yang langsung siap dengan kapasitas produksi yang bermacam-macam dalam waktu seminggu.

“Kami coba bagi-bagi, ratakan pesanan dari YBI agar semua UMKM dapat,” tambah Wirasno saat dihubungi via telepon.

Alhasil, masker batik tulis mulai diproduksi dengan standardisasi khusus. Bagian depan masker berupa batik tulis asli, bagian belakang berupa kain mori, dan di bagian tengahnya dibuat seperti kantong untuk dilapisi tisu atau mika khusus seperti yang banyak dilakukan masyarakat. Bagian tali dibuat dari kain, bukan karet demi menjamah semua masyarakat yang memang ada alergi tertentu di kulit.

Kain-kain batik tulis khas Jawa Timur yang punya kekhasan motif dan goresannya lebih ekspresif dibanding batik daerah lain dipotong sesuai pola masker. Ia juga dikombinasikan dengan batik cap sebagai bentuk variasi. Dan dalam seminggu pengerjaan, 10.000 masker siap dikirim ke YBI.

“Ya masker ini jadi penghibur di tengah kondisi seperti ini. Kita juga jadi tahu, ternyata di luar sedang Corona ini, beberapa negara memang sehari-harinya butuh masker. Jadi ada peluang pasar di situ,” kata Wirasno.

Ia tak menampik, produksi masker batik bukan tak mungkin akan terus berkembang ke depannya. Menurutnya pasar sudah ada, tinggal konsistensi dan menembus pasar itu secara tepat. Harap Wirasno, pandemik COVID-19 cepat selesai dan para UMKM dapat melanjutkan usahanya.

 

Penulis: Dewi Rachmanita Syiam

 

Berita & Update Lainnya

19 February 2020
Dalam rangka pendampingan bagi para pelaku usaha syariah anggota IKRA Indonesia,...
20 March 2020
Berjalan sebentar ke luar rumah, berbagai gerai restoran sudah berjejer. Bergese...