15 April 2020

Kuatkan Penjualan Digital, Kokoci Rendang Bertahan Hadapi Pandemik COVID-19

Saat itu tahun 1998. Krisis ekonomi melanda Indonesia. Berbagai sektor terkena imbas. Ratusan orang terkena PHk, tak terkecuai Zulfayetri yang merupakan perantau di Jakarta dari Sumatera Barat.⁣

⁣Zulfayetri kembali ke kampung. Tata ulang kehidupan kembali dari awal. Berusaha bangkit bersama istri dengan membuat usaha produk makanan berupa rendang dan camilan khas Sumatera Barat.⁣

Kini pada 2020 badai kembali terpa usahanya yang bernama Kokoci Rendang. Pandemik COVID-19 membuat omzet penjualannya hanya menyisa 20% dari biasa. Berbagai retail penjualannya tutup. Dan kini ia harus kembali cari cara agar usahanya masih terus berjalan.⁣

“Sekarang akhirnya saya coba main ke online. Dulu tidak dipikirkan, biar reseller-reseller saja. Tapi, sekarang mau tidak mau dari situ (penjualan online) cara kita di tengah Corona ini,” kata Zulfayetri yang lulusan IPB itu.⁣

Pandemik COVID-19 buat Zulfayetri sekarang kian gencar promosi lewat online. Baik website, Instagram, maupun berbagai grup yang diikuti. Tujuannya agar usahanya terus berjalan walau tak seperti beberapa bulan lalu. Ada masyarakat lokal rekanan usahanya yang bertumpu pada Kokoci Rendang.⁣

⁣“Kita walau di pelosok gini ada di Google Maps. Jadi orang lebih percaya. Saya juga coba aktif-aktif promosi di grup apapun,” tambah Zulfayetri.⁣

Kondisi COVID-19 memang jadi pukulan keras. Tapi, bukan berarti lantas menyerah terhadap keadaan. Dan Zulfayetri bersama Kokoci Rendang berharap para pelaku usaha lain bisa terus berjuang terutama dengan memasarkan produk lewat ranah digital.⁣

 

Koko Cici

Sebelum punya kesiapan mental seperti saat ini, Zulfayetri harus berjuang mati-matian membangun Kokoci Rendang sejak 2006. Bermula saat Zulfayetri menjadi korban PHK sewaktu bekerja di Jakarta, Kokoci Rendang mulai dirintis bersama istri di kampung.

“Yang berat itu malah membangun kepercayaan diri saya dengan usaha ini. Dari dulu usaha UMKM ini mungkin nggak dianggap. Apalagi saya dulu kuliah di Bogor,” kata Zulfayetri.

Memang tak sedikit yang ragu akan usahanya itu. Namun, perlahan-lahan ia usahanya kian berkembang. Makin banyak masyarakat yang jadi rekan usahanya. Makin banyak pula penghargaan yang ia dapat dari berbagai pihak.

“Sewaktu di Jakarta, saya punya orang tua angkat keturunan China. Dari mereka saya belajar soal trik dan kecermatan dalam usaha. Itu yang jadi salah satu bekal saya untuk kembangin usaha ini,” tambah Zulfayetri yang dihubungi IKRA lewat telepon.

Berkat ilmu yang banyak dari orang tua angkatnya itu, terciptalah nama “Kokoci Rendang” untuk usaha Zulfayetri. “Kokoci” merupakan singkatan dari “Koko” dan “Cici”. Selain itu, “Kokoci” juga dapat diartikan sebagai “Koto Kecil” yang merujuk pada tempat usaha Zulfayetri di kampung.

Kini, produk usahanya kian beragam. Tak hanya rendang daging, tapi juga paru, telur, dan lainnya. Berbagai camilan khas Sumatera Barat juga ia produksi untuk memenuhi permintaan konsumen. Sebagian besar bahan baku pun ia peroleh dari masyarakat lokal.

“Makanya di kondisi gini, kita usahain supaya jangan sampe ada perumahan atau apa. Gimana caranya deh, termasuk jual di online.”





Penulis: Dewi Rachmanita Syiam

 

Berita & Update Lainnya

08 April 2020
“Sudah ada beberapa UMKM (di Jawa Timur) yang terpaksa merumahkan pegawain...
31 March 2020
Bermock mengawali bisnisnya soal rajut tak begitu mengira bisa sampai saat ini. ...