20 March 2020

IndHe, Sambung Asa Mama-mama Flores Sampai ke Paris dan Madina

“Kadang, kalau mereka lagi nggak ada uang, mereka yang kirim foto tenun-tenun ke saya. Walau belum butuh lagi untuk produksi, saya tetap beli untuk mereka biayain anak sekolah.”

Bertahun-tahun lalu kegemaran Ineu Mardiani melancong membawanya ke berbagai desa di Flores, NTT dan bertemu masyarakat setempat. Saat itu tujuannya hanya untuk berwisata, tak lebih dan berencana banyak hal. Namun, siapa sangka dalam penjelajahannya di Nusantara itu ia jatuh cinta berkali-kali ke salah satu bentuk budaya bangsa berupa tenun tangan.

Kini, cintanya terus tumbuh dalam balutan usaha industri kreatif yang didirikannya 2014 lalu: Indonesia Heritage (IndHe).

Cintanya ke tenun tangan terus bersemi sampai pulang ke Jakarta. Bersama seorang teman, tahun 2013 ia mulai melakukan riset terkait tenun tangan dan pengembangan industri kreatif sektor fesyen, khususnya tas. Setahun berlalu, keinginannya untuk membawa tenun lokal jadi barang yang bisa dipakai sehari-hari menggeser merek-merek luar negeri kian kuat.

Apalagi bila memori soal mama-mama Flores yang dengan terampil menyambung asa lewat tenun sambil merawat anak atau melakukan pekerjaan domestik lain muncul dalam benak. 

“Perempuan-perempuan (mama-mama di Flores) ini hebat banget. Bisa sambil kerja di kolong rumah, sambil ngasuh anak sambil melestarikan budaya kain adat,” kata Ineu.

Dan 2014 Indhe hadir secara resmi di pasar dengan produk pertama berupa tas.

Motif eksklusif dengan serat dan pewarna alami

Dari tangan-tangan terampil para perempuan di empat desa Flores, untaian benang dari serat alam disulap jadi tenun sepanjang 148cm - 150cm dengan lebar 48cm - 50cm.

Mereka curahkan pengetahuan dan pengamatannya soal kehidupan sehari-hari serta adat istiadat menjadi cerita menarik lewat beragam motif di tiap tenun. Setiap hari mereka geluti kebiasaan yang turun temurun dari nenek moyang 

Semua tenun berbeda satu sama lain alias tidak ada yang sama total. Paling-paling hanya mirip soal warna dan motif secara garis besar. Namun, untuk ukuran motif atau hal-hal detil lain, replikasi 100% tidak bisa dilakukan seperti mesin.

“Jadi memang kalau ada yang mau beli banyak, kita selalu bilang nggak bisa semua benar-benar sama. Untuk ukuran motifnya sama persis gitu kita nggak bisa,” ujar Ineu.

Beragam tenun itu lantas dikirim ke Jakarta. Dipotong sana sini sesuai pola dan desain yang dibuat lalu dikombinasikan dengan kulit sapi berstandar khusus serta aneka rupa kain pelapis, kancing, dan resleting. Dalam hitungan hari, kain tentun tangan mama-mama Flores sudah menjadi tas tangan maupun produk fesyen lain.Tak ada sisa berarti dari tiap kain dari Flores. Semua dimaksimalkan Ineu dan para pengrajin dalam rangka mendukung gerakan zero waste. 

Ada asa dari Flores di Paris dan Madina

Bertahun-tahun kembangkan IndHe dengan modal tenunan tangan perempuan Flores, Ineu kian menuai hasil. Bukan semata-mata hanya sebatas kuantitas produk yang laku, tapi lebih dari itu. Dari tiap produknya itu, asa mama-mama Flores kian hadir. Bahkan asa itu terus tersambung sampai luar negeri karena produk-produk IndHe yang dibawa pembeli.

 

Yang bikin seneng itu suka ada yang laporan. ‘Hi sist ini tasnya udah sampai Paris loh, aku bawa ke sini loh, mau beli buat di Australia’ yang seperti itu-itu,” kata Ineu.

Produk-produk IndHe sejauh ini memang belum bisa ekspor dengan kuantitas besar, masih satuan. Namun, pelanggannya lah yang kian membawa IndHe hadir di mancanegara. Rasa bangga terhadap produk dalam negeri yang dicita-citakan Ineu itu kian hadir nyata lewat IndHe.


Penulis: Dewi Rachmanita

 

Berita & Update Lainnya

26 March 2020
Perekonomian tentu tidak hanya berjalan karena peran para pengusaha besar, tapi ...
19 February 2020
Dalam rangka pendampingan bagi para pelaku usaha syariah anggota IKRA Indonesia,...