31 March 2020

Dari Rumah ke Rumah Bermock Ajak Masyarakat Rajut Selimut

Bermock mengawali bisnisnya soal rajut tak begitu mengira bisa sampai saat ini. Awalnya hanya lantaran salah satu pemiliknya bekerja di konveksi dan ada niat bersama untuk membuat rajut ke berbagai produk tidak biasa. Bila rajut identik dengan sweater dan berbagai varian baju hangat lain, di tangan Bermock, rajutan disulap jadi selimut dan berbagai home decor yang mempercantik ruangan.

Memberdayakan masyarakat menurut Saraswati Nawangwulan, salah satu pendiri Bermock, tidaklah mudah. Ia dan tiga pendiri usaha syariah asal Bandung ini harus terjun langsung mengetuk satu demi satu rumah para pengrajin agar mereka mau berkembang bersama.

“Salah satu kendala ya soal SDM ini. Apalagi industri rajut menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak pengrajin akhirnya alih profesi,” kata Saras.

Namun, Saras tak menyerah dan berusaha yakinkan para pengrajin bahwa rajut dapat membantu kehidupan mereka. Berbagai upaya pun dilakukan Saras dan tim.

Beberapa di antaranya membantu pembangunan rumah para pengrajin, giat mempromosikan Bermock lewat berbagai outlet dalam dan luar negeri, memproduksi rajut untuk brand lain, hingga mulai membantu E-Commerce di Amerika Serikat yang khusus berisi produk UMKM Indonesia.

Untuk menjaga kepercayaan para pengrajin, Bermock juga tak segan-segan menaruh barang inventaris berupa mesin di beberapa rumah pengrajin. Mereka juga dipercaya Bermock untuk merekrut pengrajin lain dengan standar kualitas yang sama.

“Yang sekarang juga malah terkendala itu kalau warna benang habis. Mau beli ke pabrik, kamu juga belum butuh dalam jumlah besar,” sambung Saras.

Alhasil, produk hasil kolaborasi dengan desainer yang sudah direncanakan tak jarang harus dilakukan penyesuaian warna ulang atau tunda produksi demi ketersediaan benang.

Demi Rajutan

Jatuh bangun usaha dirasakan Saras dan tim berkali-kali. Konflik internal pun tak jarang harus mereka lalui. Namun, bila dalam kondisi sedang kurang baik, mereka selalu ingat bagaimana awal perjuangan mereka.

“Kita selalu ingat aja mau angkat rajutan jadi semacam showcase sendiri. Barang-barangnya serba rajut. Makanya kita juga udah mulai mikirin produk lain yang bisa dari rajut. Misal buat hotel, restoran, atau apa,” tambah Saras.

Dengan rata-rata produksi minimal 400pcs per bulan, Bermock kini juga sudah produksi rajutan ke setidaknya tiga brand lain. Dan mereka satu sama lain saling mendukung, bukan menjatuhkan atas nama rajut.

 

Berita & Update Lainnya

08 April 2020
“Sudah ada beberapa UMKM (di Jawa Timur) yang terpaksa merumahkan pegawain...
23 September 2019
Pada tanggal 28 Agustus 2019 telah dilaksanakan sebuah acara kurasi IKRA Indones...